Wednesday, January 03, 2007
MOSAIC: World News from the Middle East August 9, 2005
| The Peabody Award-winning Mosaic features selections from daily TV news programs produced by national broadcasters throughout the Middle East, translated when necessary into English. Link TV is an independent national network providing Americans a global perspective on world issues and cultures, now available in one out of four US homes. Al-Iraqiya TV, Iraq Explosion in Baghdad kills 3 and wounds 32 Jordan TV, Jordan Palestinian President urges Palestinians to be calm Israeli army dismantles an outpost in Gaza London bombing suspect plans to fight extradition Nagasaki marks 60th anniversary of nuclear bombing Future TV, Lebanon Lebanon is under pressure to extend military presence in the south Syrian-Lebanese border crisis top cabinet discussions Syria authorizes UN probe to Hariri's assassination Radical Muslim cleric Omar Bakri leaves Britain for Lebanon Sandstorm delays work on Iraq's constitution Saudi Arabia intensifies security around foreign compounds Palestinian President urges Palestinians to keep calm I.A.E.A. to issue Iran an ultimatum regarding nuclear activities IRIB2 TV, Iran I.A.E.A. postpones meeting on Iran's nuclear situation Al-Alam TV, Iran Iran is determined to obtain nuclear energy Syria TV, Syria Hamidya market in Damascus draws tourists Abu Dhabi TV, UAE TV drama portrays the lives of American soldiers in Iraq | |
Tuesday, January 02, 2007
Video of Saddam Hussein being executed
| Originally posted as a link on the Something Awful forums, I saved and uploaded it to google video before it died. | |
Sunday, December 10, 2006
Gambar yang banyak kami terima melalui email

Friday, December 08, 2006
ISLAM HADHARI
Thursday, November 30, 2006
Malaysia Punya Peranan Penting Promosi Islam, Kata Howard
KUALA LUMPUR, 30 Nov (Bernama) -- Malaysia, selaku contoh sebuah negara Islam yang sederhana, konstruktif dan kompetitif, mempunyai peranan yang amat penting untuk dilaksanakan dalam menggalakkan pemahaman yang lebih baik terhadap Islam dan kepentingannya, kata Perdana Menteri Australia John Howard.
Thursday, November 23, 2006
RM900 juta bina enam institut latihan industri
Oleh HASHNAN ABDULLAH
PUTRAJAYA 22 Nov. – Kerajaan memperuntukkan RM900 juta di bawah Rancangan Malaysia Kesembilan (RMK-9) untuk pembinaan enam institut latihan perindustrian di seluruh negara tahun depan.
Menteri Sumber Manusia, Datuk Seri Fong Chan Onn berkata, institut tersebut yang dijangka beroperasi akhir 2008, membolehkan jumlah pengambilan pelatih ditambah kepada 40,000 orang setahun.
Beliau berkata, empat dari institut latihan itu akan dibina di Kedah, Perak, Kelantan dan Sarawak manakala dua buah lagi akan dibangunkan di Terengganu.
‘‘Kementerian telah mengenal pasti tapak bagi institut latihan baru itu dan kini, kami dalam proses mengenal pasti kontraktor yang layak untuk melaksanakan projek itu.
‘‘Oleh kerana ia adalah antara projek utama kementerian, proses pembinaan enam institut latihan baru itu akan dipantau dengan teliti supaya berjalan mengikut jadual,” katanya.
Beliau berkata demikian kepada pemberita selepas mempengerusikan mesyuarat pasca Kabinet kementeriannya di sini, hari ini.
Ketika ini Kementerian Sumber Manusia telah membina 21 buah institut latihan perindustrian yang telah beroperasi di seluruh negara.
Sementara itu, Chan Onn memberitahu, kementerian terpaksa memperuntukkan sebanyak RM200 juta untuk kerja-kerja membaik pulih peralatan latihan dan bangunan di Institut Latihan Perindustrian Prai (ILPP).
Peruntukan sebanyak itu, katanya terpaksa dibelanjakan kerana syarikat swasta yang dilantik untuk melaksanakan projek institut tersebut gagal melaksanakan tanggungjawab dengan sebaik mungkin.
Beliau berkata, ILPP yang diswastakan pada 1990 itu merupakan satu-satunya institut latihan perindustrian di bawah Kementerian Sumber Manusia yang terlibat dalam program Dasar Penswastaan Negara.
‘‘Unit Perancang Ekonomi (EPU) di Jabatan Perdana Menteri (JPM) telah mengarahkan kami mengambil alih pengurusan institut latihan perindustrian itu.
‘‘Kami akan bermesyuarat dengan bahagian EPU pada minggu depan bagi membincangkan cara terbaik untuk mengurus dan melaksanakan kerja-kerja membaik pulih institut berkenaan,” katanya.
Monday, November 20, 2006
DPR Tak Berharap Banyak dari Bush
Ketua Komisi I (Bidang Luar Negeri) DPR Theo L Sambuaga, misalnya, tidak mendengar adanya tawaran Bush soal peningkatan investasi di Indonesia. Padahal, investasi adalah hal yang dibutuhkan Indonesia saat ini.
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Djoko Susilo, berpendapat, kunjungan Bush ke Indonesia tidak bisa terlalu banyak diharapkan. Berbagai bantuan yang dijanjikan Bush masih perlu dilihat realisasinya. Ia mengacu pada pertemuan Bush dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang saat itu dipimpin Syafii Maarif tahun 2003 di Bali. Dalam pertemuan itu Bush menjanjikan akan menjadikan Indonesia sebagai moderator di Timur Tengah. Namun, yang terjadi adalah Bush justru menambah "amunisi" di Timur Tengah.
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar, Yuddy Chrisnandi, berpendapat, yang dibutuhkan Indonesia dari AS adalah kebijakan nyata, seperti perbaikan kontrak karya Freeport dan renegosiasi Exxon.
Meski demikian, Theo menilai pertemuan kedua pemimpin negara tetap memberikan harapan positif pada masa mendatang. "Pertemuan ini menunjukkan AS membutuhkan Indonesia. Dengan demikian, dalam jangka panjang kita harus membangun hubungan yang setara dan menguntungkan," paparnya.
Cendekiawan Komaruddin Hidayat yang diundang hadir dalam diskusi sembilan tokoh masyarakat dengan Bush juga tidak terlalu banyak berharap dengan tindak lanjut diskusi sekitar 30 menit itu.
Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Yusny Saby menekankan pentingnya peran AS mencegah dan meredam konflik global. Adanya konflik global memberikan spirit atas terjadinya konflik lokal. Dengan posisinya, kebijakan Bush dan AS mestinya bisa membantu meredam konflik sejak awal. "Konflik itu bukan demokrasi," kata Yusny yang menilai pertemuan tersebut bukan basa-basi.
Tokoh pendidikan Arief Rachman menilai pertemuan berlangsung dalam suasana cukup terbuka dan kritis. Ia menyampaikan tiga hal terkait dengan pendidikan. Pertama, pemakaian anggaran untuk perang. Kedua, mengusulkan pendidikan untuk perdamaian. Ketiga, pendidikan seharusnya bisa membuat manusia lebih terdidik, berbudaya, dan beradab. (MAM/DIK/SUT/INU)

